Kab.BogorKegiatan Organisasi

Adat Simalungun Harus Dipahami dan Dilestarikan

22
×

Adat Simalungun Harus Dipahami dan Dilestarikan

Sebarkan artikel ini

Kompasaktual.Com – Bogor – Adat dan budaya Simalungun merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang tidak hanya perlu dilestarikan sebagai warisan leluhur, tetapi juga dipahami sebagai sumber pengetahuan, identitas, etika, dan nilai kehidupan masyarakat.

Adat pada hakikatnya bukan sekadar rangkaian upacara, pakaian adat, seni tari, musik, bahasa, maupun simbol budaya. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, keluarga, lingkungan, masyarakat, serta leluhur.

Nilai tersebut mencakup tanggung jawab, penghormatan, kepatutan, keseimbangan, solidaritas, dan tata hubungan sosial yang turut membentuk karakter serta peradaban sebuah masyarakat.

Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, keberadaan adat dan budaya setiap suku merupakan bagian penting dari kekuatan bangsa. Semangat Bhinneka Tunggal Ika akan semakin bermakna apabila setiap masyarakat adat dan komunitas budaya memiliki ruang untuk menjaga, mengembangkan, serta memperkenalkan kekayaan budayanya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Budaya dan Adat Simalungun sebagai warisan leluhur karena itu perlu dipelihara, dikaji, didokumentasikan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Identitas budaya juga tidak cukup hanya ditunjukkan melalui nama marga, pakaian adat, atau pertunjukan seni. Identitas akan memiliki makna apabila nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya dipahami, dihayati, dihormati, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Hotspot Katar Pasang CCTV di Lokasi Bekas Kebakaran Sampah di Binong

Pelestarian adat pun tidak seharusnya berhenti pada romantisme masa lalu. Upaya tersebut perlu dilakukan melalui pendidikan, dokumentasi, kajian budaya, dialog antargenerasi, penguatan kelembagaan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar nilai leluhur.

“Kita boleh modern dalam teknologi, tetapi jangan menjadi asing terhadap akar kebudayaan sendiri. Kita terbuka terhadap budaya lain, tetapi keterbukaan tidak berarti kehilangan identitas sendiri,” demikian pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Dalam konteks tersebut, Pemangku Adat Cendekiawan Simalungun (PACS) memiliki ruang pengabdian yang strategis dalam menjaga dan mengembangkan adat budaya Simalungun. Kepedulian terhadap adat bukanlah bentuk eksklusivitas, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga kekayaan kebudayaan Indonesia.

PACS juga terus membangun silaturahmi dengan masyarakat Simalungun, pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai unsur masyarakat lainnya, khususnya di Provinsi Banten.

Sebagai bagian dari program kerja Pengurus DPC PACS Banten, telah dilaksanakan Seminar Adat Simalungun Tahap II dan Tutorial Manortor/Menari pada Jumat, 2 Oktober hingga Minggu, 4 Oktober 2026, bertempat di Hotel Beth Kasegaran Theresia, Megamendung, Bogor.

Baca Juga :  HUT Ke-1 DKKT, Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Fikri Faiz Muhammad Dukung Pelestarian Seni dan Budaya

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 70 peserta yang terdiri atas pengurus DPC PACS Banten, perwakilan paguyuban marga Simalungun, serta sejumlah tokoh Simalungun.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., mantan Menteri Pertanian RI Kabinet Gotong Royong dan Kabinet Indonesia Bersatu sekaligus Penasehat Presidium DPP PACS; Dr. Med. Sarmedi Purba, Sp.O.G., Ketua Umum Presidium DPP PACS; Prof. Dr. Bintan R. Saragih, S.H., M.H.; serta Drs. Marim Purba, Walikota Pematangsiantar periode 2000–2005.

Turut hadir para penasehat DPC PACS Banten, yakni Ir. Jhankandi Saragih, M.M., Dr. Friens Sinaga, Sp.JP., dan Djapaten Purba, BME.

Selain itu hadir Rohdian Purba, S.Si., M.Si. dari Bidang Adat Budaya DPP PACS; Ketua PACS DKI Jakarta Jacob Saragih; Ketua PACS Bogor Dewiljon Sipayung; serta Ketua PACS Bandung Marintan Purba.

Ketua DPC PACS Banten, Drs. Maruli Girsang, didampingi Sekretaris Nomerinson Purba, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materil terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Baca Juga :  Bupati Tegal Apresiasi Peran IWO dalam Menyebarkan Informasi dan Kegiatan Sosial

Ucapan terima kasih disampaikan khususnya kepada para tokoh Simalungun, donatur, anggota DPC PACS Banten, seluruh panitia, serta manajemen dan kru Hotel Beth Kasegaran Theresia.

Sementara itu, Ketua Panitia Agendi Sinaga, A.Md., berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga dan melestarikan budaya Simalungun sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.

Menurutnya, pelestarian budaya juga perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kearifan lokal serta mendukung program pemerintah, khususnya di Provinsi Banten.

Pada akhirnya, pelestarian adat bukan merupakan pekerjaan satu generasi maupun tanggung jawab satu lembaga. Pelestarian budaya merupakan tanggung jawab moral setiap generasi yang menerima warisan dari para leluhur untuk kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Habonaron do Bona.”Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa dari nilai yang benar masyarakat berpijak, dari adat yang dipahami kehidupan dibangun, dan dari budaya yang dihormati manusia mengenal jati dirinya.

Karena itu, Simalungun tidak cukup hanya dikenang. Simalungun harus dipahami, dihayati, diwariskan, dan terus hidup melalui generasi yang sadar terhadap nilai-nilai leluhurnya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *